Agustus 2008


Thank you, my love, for your love!
You’re my best gift from above!
Such a beautiful lady
Would walked the hard road with me.

I’m so glad being your man,
To be more than just a friend.
To fulfil God’s plan with you,
And to feel your love so true.

Everytime I remember
The way we love each other,
I always thank God for it
And I will never retreat

We’ll move forward and press on,
Together we’ll serve God’s Son
We’ll never turn our face back,
Even if we seem to lack

We’ll walk the valley of tears
In Christ we’ll conquer all fears
We’ll share our joyful moments
When we see His fulfillments

We shall never walk alone
Since by God we have been known
He’ll be with us in the way
And keep us day after day

Thank you, my love, for smiling
A smile only love can bring.
It brightens my gloomy heart
And charmed me right from the start

Thank you, my love, thank you so!
For in these times of sorrow
You would still walk by my side
Your love for me is so wide!

Ayus!
Juli 2008

——– Kedung Pane ————-

Tanggal 18 Juni 2008, setelah 60 hari mendekam di Rutan Polwiltabes Semarang, saya dipindahkan ke tempat baru, Lembaga Permasyarakatan Kedung Pane Semarang. Selama di Rutan, saya mendapat banyak informasi dari sesama tahanan yang sudah pernah mendekam di Lapas Kedung Pane tentang kondisi Lapas tersebut. Namun hari itulah saatnya saya membuktikan sendiri kebenarannya.

Saya berangkat dengan membawa 2 stel pakaian, perlengkapan mandi, dan beberapa buku bacaan, serta uang sebesar 25 ribu rupiah di saku celana. Pukul 10 pagi saya dan seorang teman dinaikan ke dalam mobil tahanan kejaksaan, kemudian kami dibawa terlebih dahulu ke kantor kejaksaan untuk bertemu jaksa yang akan menangani kasus kami. Di kejaksaan, kami bertemu dengan tahanan-tahanan lain dari berbagai Rutan kepolisian di Semarang. Pukul 3 sore kami semua diberangkatkan ke Lapas dengan sebuah mobil yang hampir tidak dapat memuat kami semua. Dengan kondisi tangan terborgol yang membuat kami tidak dapat bergerak leluasa, kami hanya bisa berdoa agar kami segera sampai ke Lapas dan keluar dari mobil tahanan yang pengap dan sempit itu. Akhirnya setelah kurang lebih 45 menit sampailah kami di Lapas Kedung Pane Semarang. 18 Juni 2008 mengawali hari-hari saya menjalani masa penahanan di Lapas Kedung Pane Semarang.

Di dalam Lapas, semua barang bawaan kami diperiksa, kemudian kami juga diperiksa. Petugas yang memeriksa kami menanyakan apakah ada yang membawa uang, karena menurut beliau tahanan tidak diperkenankan membawa uang. Setelah sampai giliran saya, saya diminta mnyerahkan uang 25 ribu yang saya bawa, namun anehnya saya tidak mendapat tanda terima. Padahal kata beliau uang itu disita untuk biaya administrasi. Administrasi yang seperti apa? Saya tidak pernah tahu sampai sekarang. Yang saya tahu pasti, uang tersebut tidak akan kembali.

Lapas Kedung Pane ini tergolong luas. Lapas ini terdiri dari beberapa bagian. Gedung bagian depan adalah Kantor Kalapas administrasi pegawai. Setelah melewati sebuah taman, terdapat sebuah gedung lagi yang biasanya dipergunakan untuk administrasi tahanan/narapidana. Oya, di Lapas ini, tahanan berarti mereka yang belum mendapat vonis dari hakim/pengadilan. Sedangkan napi adalah mereka yang telah menerima vonis hakim/pengadilan dan sedang menjalani masa hukuman. Di gedung kedua ini juga terdapat ruang bezuk, di mana tahanan/napi bisa bertemu dengan keluarga/teman yang berkunjung. Oya, di situ juga ada wartel dan toko “koperasi” yang menjual berbagai keperluan kami. Padahal di beberapa tempat ditempel berbagai peringatan bahwa uang dilarang masuk. Di sebelah gedung ini ada lahan kosong yang digunakan untuk produksi paving block.

Begitu melangkah keluar dari gedung kedua ini, kami langsung bisa melihat lapangan berumput di depan kami. Di sebelah kirinya ada ruang dapur, dan di sebelah kanan lapangan terdapat Rumah Sakit. Setelah melewati lapangan tersebut, ada sebuah bangunan yang digunakan untuk berbagai keperluan seperti potong rambut,laundry, stodio musik, bengkel mebel, dsb. Kompleks ini disebut kompleks “Bimpas” alias Bimbingan Pemasyarakatan.

Setelah kompleks Bimpas, terdapat ruang Aula, lapangan bola Voli, masjid, gereja, ladang, dan kantin. Kantin ini dikelola oleh salah seorang napi, yang tentunya wajib membayar setoran kalau masih ingin bertahan di situ. Setoran kepada siapa? Itu sudah menjadi rahasia umum. Sedikit “keunikan” kantin ini, di dekat pintu masuk kita bisa melihat tulisan “Bebas Peredaran Uang” yang berukuran cukup besar, namun di tiap daftar menu selalu terdapat tulisan “Tidak Melayani Bon”, he he he … cukup unik bukan?

Nah, di sebelah kiri kompleks Bimpas sampai ladang terdapat 5 blok napi/narapidana, yakni blok A, B, C, D, dan E. sedangkan di sebelah kanannya, terdapat blok tahanan, yakni blok F, G, H, I, dan J. tiap blok terdiri dari 21 kamar berbagai ukuran. Selain blok-blok tersebut, terdapat jua blok isolasi untuk tahanan/napi bermasalah, dan blok khusus tahanan/napi anggota kepolisian dan kasus terorisme, yang terdapat di sebelah kamar gedung kedua tadi.

Setelah pemeriksaan dan pendataan, saya dan teman-teman di bawa ke dapur untuk mengambil tempat makan dan cangkir. Setelah itu kami diantarkan ke blok tahanan, dan kebetulan saya dimasukkan ke blok yang paling elit, yaitu blok J. Untuk bisa ditempatkan di blok J, setiap orang harus menyediakan “uang kamar” berkisar antara 600 ribu sampai 3 juta rupiah. Hanya tahanan di bawah umur saja yang dibebaskan dari segala iuran.

Saya masuk ke ruang tamping dan dijelaskan beberapa peraturan dasar. Di blok J, tiap 10 hari sekali penghuni ditarik iuran sebesar 15 ribu rupiah. Selain itu, ada juga iuran tiap senin yang besarnya 2500 rupiah per orang. Iuran pertama untuk pengadaan air dll, sedangkan yang kedua untuk kebersihan. Ada juga atensi untuk bagian RS (Rumah Sakit), registrasi, dll berupa 2 bungkus rokok per bagian. Belum lagi ada petugas jaga/sipir yang minta “perkenalan” berupa rokok. Ada yang minta sebungkus, ada juga yang 4 bungkus.

Di Lapas sebagaimana di dunia luar, semu bisa diatur selama ada lembaran-lembaran rupiah. Selama ada uang bensin, petugas siap membantu Anda. Masih ingat kasus Ayin yang menelpon dari dlam penjara? Di Lapas Kedung Pane pun bisa. Tinggal memberi 5 ribu rupiah petugas siap memasukkan HP Anda ke dalam. Tidka hanya HP, alat-alat elektronik lain pun bisa di bawa masuk, seperti radio, TV, kipas angin, dll. Andapun bisa “sewa kamar” dengan biaya + 200 ribu rupiah.

bersambung…

Ayus!

Agustus 2008

What the different?

What the different is
The life inside and the
Life outside the prison?

Well, outside, we are curious,
Which of these good guys
That are not good at all

And in the prison, we wonder
If some of those bad people
Are not bad at all

Ayus!
April 2008

Halaman Berikutnya »