Posted by cahlamper under
Puisi | Tag:
cukup,
derita,
doa,
Tuhan |
Leave a Comment
Meski derita dan bencana melanda,
Orang-orang bersepakat mengejar aku,
Merencanakan kejahatan atasku,
Aku akan tetap diam,
Aku takkan memaksa TUHAN,
Atau menuntut pembalasan,
Kar’na kepuasan hati
bukan pada terjawabnya doa,
atau kejatuhan para penganiaya,
TUHAN mengasihi aku,
Dan itu lebih dari cukup,
Sejak jatuh ke dalam dosa, manusia cenderung mencintai pembenaran, bukan kebenaran. Ketika ada sesuatu yang salah, kita melihat orang lain, bahkan Tuhan sebagai penyebabnya. Adam menyalahkan Hawa, dan Hawa menyalahkan iblis. Ayub menilai Tuhan sudah salah langkah dengan menimpakan kepadanya segala kemalangan itu.
Allah yang kita sembah bukan “hanya” Maha Kasih, Maha Adil, atau Maha Kuasa; Dia juga Allah yang Maha Benar. Tidak ada seorangpun yang akan sanggup berargumentasi dengan Allah dan menang. Bahkan tokoh Alkitab yang super saleh seperti Ayub pun harus takluk dihadapan Tuhan. Kita mungkin punya standar-standar kebenaran yang hebat, namun di hadapan Allah, itu semua tidak ada artinya.
Kita seringkali mendikte Allah dengan kebenaran kita. Kita meminta atau berharap bahwa segala sesuatu akan terjadi sesuai kebenaran kita. Allah seharunya melakukan ini dan itu, demikian pikir kita. Kita ingin supaya Allah mau memandang permasalahan dari sudut pandang kita, bukan sebaliknya. Namun sehebat apapun argumentasi kebenaran kita, kebenaran Allah tidak terkalahkan.
Yang perlu kita lakukan sekarang adalah mulai mencintai Allah dan kebenaran-Nya, bukan lagi pembenaran diri. Kita minta supaya Allah menolong kita untuk menyelidiki hati kita (Maz 139:23-24). Dan kita mulai belajar membersihkan hati kita, agar hidup kita selaras dengan kebenaran Sang Maha Benar. Amin.