“Pokoknya aku ingin dikuburkan di bulan, titik!” Teriak Mbah Sudirjo. Sedetik kemudian beliau terbatuk – batuk, dan suster perawat dengan sigap mengambilkan minum untuk pasien yang sudah renta itu.
Pak Parno, putra tertua Mbah Sudirjo yang bekerja di kantor kecamatan hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya demi mendengar permintaan ayahnya yang nganeh – nganehi itu. Bahkan mungkin permintaan beliau belum pernah ada dalam sejarah peradaban manusia di bumi ini. Pak Parno galau. Sebagai seorang anak ia ingin sekali membahagiakan ayahnya, salah satu caranya dengan memenuhi wasiat terakhir beliau. Akan tetapi permintaan ayahnya jelas – jelas mustahil untuk dilaksanakan.
“Mustahil apanya?” Kata Mbah Sudirjo kepada Pak Parno dua hari yang lalu ketika dia mencoba membujuk ayahnya untuk membatalkan wasiatnya. “Bukankah di negerimu ini tidak ada yang mustahil untuk dilakukan? Bukankah peribahasa sekejam – kejamnya harimau tidak akan memangsa anaknya sendiri sudah dipecahkan di sini? Bukankah di sini kejahatan yang tidak mungkin menang ternyata dapat mengalahkan kebenaran? Lalu semustahil apakah permintaanku ini?” sambung Mbah Sudirjo berapi – api.
“Tapi yang ini lain, Pak,” kata Parno, “kita belum punya teknologi secanggih Amerika dan Eropa, yang bisa membawa manusia ke bulan. Teknologi kita sangat jauh tertinggal dari mereka, Pak.”
“Itu masalah kalian, dan aku tidak mau tahu. Pokoknya aku harus dikuburkan di bulan!” Mbah Sudirjo memalingkan mukanya ke arah lain. “Salah kalian sendiri, yang mengabaikan pendidikan. Yang kalian pikirkan hanya pembangunan pabrik – pabrik yang bikin kotor dan gedung – gedung bertingkat yang bikin panas kota ini.”
Pak Parno terdiam. Di dalam hati dia menyetujui pendapat ayahnya itu, tetapi dia tidak dapat berbuat apa – apa untuk itu, karena dia hanya seorang pegawai administrasi di kantor kecamatan. Dilihatnya jam tangannya, sudah hampir jam satu siang. Itu artinya dia harus segera kembali ke kantor.
“Pak, sudah hampir jam satu siang, saya harus kembali ke kantor. Nanti biar si Burhan yang menemani Bapak di sini.” Pamit Pak Parno. Mbah Sudirjo tidak bergeming.
***
Berita cepat tersebar di negeri tempat Pak Parno mengabdikan dirinya, apalagi ditunjang dengan teknologi informasi yang semakin canggih. Dalam waktu 3 hari, berita tentang wasiat terakhir Mbah Sudirjo segera tersiar ke seluruh penjuru pelosok negeri. Perbincangan – perbincangan gaya dialog maupun talk show pun bermunculan di stasiun – stasiun televisi. Berbagai macam pengamat dan narasumber ahli pun diundang untuk berdiskusi mengenai wasiat terakhir Mbah Sudirjo, mulai dari pengamat ekonomi, psikolog, hingga tukang gali kubur setempat.
Mbah Sudirjo telah menjadi selebriti! Setiap hari pasti selalu ada saja wartawan dari media massa cetak maupun elektronik yang datang untuk meliput perkembangan terakhir Mbah Sudirjo, belum lagi orang – orang yang penasaran setelah mendengar atau membaca berita tentang wasiat itu. Hal ini membuat pihak rumah sakit kerepotan dan akhirnya mengambil keputusan untuk memindahkan Mbah Sudirjo ke kamar VVIP, supaya hiruk pikuk wartawan dan pengunjung tidak mengganggu pasien – pasien yang lain. Sebuah perusahaan televisi swasta berhasil melobi pihak rumah sakit sehingga memiliki ijin eksklusif untuk melakukan siaran langsung wawancara dengan Mbah Sudirjo. Sedangkan seluruh biaya rumah sakit ditanggung oleh sebuah maskapai penerbangan terkemuka.
***
3 hari setelah pemindahan Mbah Sudirjo ke ruang VVIP, badan antariksa Amerika yang bernama NASA menelepon menteri luar negeri dan menyatakan ketertarikan dan keinginan mereka untuk membantu Pak Parno melaksanakan wasiat terakhir ayahnya. Mereka menawarkan untuk membawa jenasah Mbah Sudirjo pada misi perjalanan ke bulan berikutnya.
“Betulkah?” Tanya Pak Parno setengah tak percaya ketika petugas resepsionis rumah sakit memberitahukan kepadanya mengenai hal itu.
“Betul, Pak. Bahkan perwakilan dari mereka akan menuju ke mari bersama dengan rombongan Presiden besok siang.” Jawab resepsionis itu meyakinkan.
“Darimana Mbak tahu?”
“Tadi pagi kementerian luar negeri menelepon ke sini.”
Wajah Pak Parno berubah. Dia tidak nampak bahagia sama sekali tentang hal itu.
“Lho, bukankah seharusnya Bapak merasa senang karena akhirnya wasiat Mbah Sudirjo bisa dilaksanakan, kenapa air muka Bapak malah tampak sedih?” Tanya petugas itu penasaran.
“Karena tadi malam beliau membatalkan wasiatnya.” Jawab Pak Parno pelan.
“Hah?! Bagaimana beliau bisa berubah pendapat? Bukankah kata Bapak, beliau adalah seorang yang berpendirian keras?” Rasa penasaran semakin bertambah di hati sang resepsionis.
“Saya tidak bisa mengatakan sebabnya. Biarlah beliau sendiri yang mengatakannya.”
***
Siang itu jumpa pers pun digelar. Semua media massa dari dalam maupun luar negeri pun berkumpul di aula rumah sakit untuk mendengarkan secara langsung pernyataan Mbah Sudirjo perihal pembatalan wasiat terakhirnya.
“Saudara – saudara sekalian,” kata Burhan yang selama ini menjadi juru bicara keluarga, “harap tenang, karena sebentar lagi ayah saya akan masuk ruangan ini untuk memberikan pernyataan.” Suara hiruk pikuk mendadak berubah senyap.
Beberapa saat kemudian Mbah Sudirjo terlihat memasuki ruangan dengan kursi roda dan dibantu oleh 2 orang suster yang cantik. Cantik karena mereka adalah suster pilihan yang diutus oleh sebuah produsen kosmetik, yang menjadi salah satu sponsor wasiat terakhir Mbah Sudirjo. Perusahaan itu rencananya akan mendandani beliau dengan produk mereka pada waktu beliau meninggal dan dibawa ke bulan nantinya.
“Selamat siang Saudara – Saudara,” kata Mbah Sudirjo mengawali pernyataannya, “saat ini saya akan memberikan pernyataan seputar wasiat terakhir saya.” Semua mata dan telinga tertuju pada beliau.
“Mengenai pembatalan wasiat terakhir saya untuk dikebumikan di bulan, hal itu memang sepenuhnya benar,” belum selesai Mbah Sudirjo berbicara, seluruh ruangan menjadi ramai. Masing – masing saling berbisik – bisik dengan teman di sebelahnya.
“Mengapa Anda memutuskan untuk membatalkan wasait terakhir Anda tersebut?” Tanya salah seorang wartawan cetak.
“Apakah Anda mengambil keputusan itu sendiri, ataukah ada tekanan dari pihak – pihak yang berkuasa?” Tanya yang lain lagi.
“Anda dibayar berapa untuk membatalkan wasiat terakhir Anda itu?”
“Lalu bagaimana pula dengan tanggung jawab Anda terhadap rakyat dan para sponsor yang mendukung wasiat Anda itu?”
“Tolong semuanya tenang sebentar!” Pinta Burhan sambil mengangkat tangan kanannya tinggi – tinggi. “Biarkan ayah saya melanjutkan pernyataannya.” Seluruh ruangan perlahan – lahan mulai tenang kembali.
Mbah Sudirjo melanjutkan pernyataannya, “Pertama saya ingin meminta maaf sebesar – besarnya kepada masyarakat dan semua pihak atas pembatalan wasiat terakhir ini. Pembatalan ini disebabkan karena dua hari yang lalu sekitar pukul satu dinihari, saya didatangi oleh seorang malaikat utusan Tuhan.” Mbah Sudirjo berhenti sejenak, lalu melanjutkan lagi, “Beliau mengatakan bahwa Tuhan sangat marah atas wasiat terakhir saya itu, terlebih dengan alasan saya yang selama ini saya kemukakan. Saat itu juga saya diperlihatkan seluruh kesalahan yang pernah saya buat sepanjang hidup saya, dan sungguh, saya sendiri sangat terkejut dengan apa yang saya lihat. Kemudian setelah memperlihatkan semuanya itu, malaikat itu berkata kepada saya, ‘Kamu itu tidak ada bedanya sama sekali dengan mereka yang kamu anggap jahat. Oleh karena itu Tuhan tidak rela jikalau jasadmu mengotori rembulan-Nya.’ Setelah itu dia menghilang dan meninggalkan cahaya yang luar biasa terang di dalam kamar saya. Saat itu juga saya langsung memohon ampun kepada Tuhan atas kesombongan saya, menganggap diri sebagai orang yang paling suci dan paling layak untuk disemayamkan di bulan. Seharian saya menyimpan pengalaman itu, dan tadi malam saya baru menceritakannya kepada kedua putra saya.”
Penjelasan itu membuat seluruh ruangan kembali ramai. Para pemirsa di rumah yang menyaksikan jumpa pers itu melalui siaran langsung televisi pun bereaksi. Ada yang semakin kagum atas kejujuran dan keterbukaan Mbah Sudirjo, ada pula yang kagum karena pertemuaanya dengan malaikat. Yang lainnya semakin bertambah kebenciannya kepada orang tua itu. Mereka menganggap itu hanya akal – akalan Mbah Sudirjo saja untuk mendapatkan popularitas di masa – masa akhir hidupnya.
Seorang wartawan mengangkat tangannya untuk bertanya dan Burhan mempersilakannya.
“Lalu apakah itu berarti Bapak bersedia untuk dikebumikan di bumi nanti kalau sudah meninggal?” tanya wartawan itu.
“Tidak.”
Semua bertanya – tanya.
“Lalu dengan cara apa Bapak mau dikebumikan?” tanya yang lain.
“Saya ingin tubuh saya dikremasi, lalu abu jenasah saya ditaburkan di angkasa. Biarlah saya terbang dan menghilang bersama angin. Kalau yang ini Tuhan tidak keberatan.”
Mbah Sudirjo mulai terbatuk – batuk lagi. Seluruh ruangan terdiam. Seluruh pemirsa televisi di rumah juga terdiam. Mereka tidak mampu berkata – kata, seolah terbius oleh pernyataan Mbah Sudirjo tersebut.
“Baik Saudara – Saudara,” kata Burhan memecah kesunyian, “saya pikir cukup sekian saja jumpa pers kita hari ini. Biarlah ayah saya beristirahat.” Kedua suster segera membawa Mbah Sudirjo ke dalam kamar perawatan.
***
Keesokan harinya hal yang sama terjadi lagi ketika Mbah Sudirjo menyatakan wasiatnya untuk dikebumikan di bulan. Kali ini hampir semua media cetak maupun elektronik memberitakan pernyataan Mbah Sudirjo pada hari sebelumnya. Koran – koran dan majalah – majalah rata – rata menggunakan judul yang sama untuk headline beritanya: MBAH SUDIRJO: TERBANG DAN MENGHILANG BERSAMA ANGIN. Sementara itu stasiun – stasiun televisi dan radio sibuk dengan dialog, debat, dan polling – polling mereka mengenai wasiat terakhir Mbah Sudirjo.
Mbah Sudirjo tetap menjadi selebritis! Bahkan sekarang semakin banyak tawaran sponsor berdatangan untuk beliau. Seorang produser film bahkan meminta ijin untuk membuat film biografi tentang beliau. Tayangan – tayangan infotainment tak pernah lupa memasukkan perkembangan terakhir Mbah Sudirjo dalam siaran mereka.
***
Dua minggu kemudian, Mbah Sudirjo meninggal. Upacara pelepasan diadakan, dan semua wasiat terakhir beliau pun dilaksanakan. Setelah dikremasi, abu jenasah Mbah Sudirjo dibawa ke angkasa untuk ditaburkan. Semua stasiun televisi di negeri itu beramai – ramai menyiarkan peristiwa itu secara langsung, dibumbui dengan telekuis – telekuis berhadiah.
Semua orang merasa kehilangan atas kepergian beliau. Bukan karena beliau adalah orang yang baik, melainkan karena tidak ada lagi yang bisa dijadikan bahan perbincangan. Akan tetapi rasa kehilangan itu tidak bertahan lama, karena 3 hari kemudian dikabarkan bahwa di bagian lain di negeri itu ada orang yang meminta supaya jasadnya dikuburkan di planet Mars…
TAMAT