Aku sudah berusaha untuk berkonsentrasi pada buku pelajaran yang sedang kubaca, tapi tetap saja pikiranku masih terganggu dengan wajah cewek yang kutemui hari Selasa dua hari yang lalu di toko kaset. Waktu itu aku lagi nyariin kaset paling gresnya Norah Jones dan kebetulan saat itu dia berada di bagian musik jazz. Sebetulnya aku nggak begitu memperhatiin dia karena aku sedang berkonsentrasi untuk mencari album terbaru Norah Jones itu, akan tetapi tiba – tiba dia sambil bergumam menyanyikan bagian refrain dari lagu Sunrise, lagu terbarunya Norah Jones yang menjadi lagu andalan album yang sedang kucari, dan suaranya terdengar jazzy banget, hampir mirip dengan suara penyanyi aslinya. Rasa penasaranku pun mulai timbul.
“Suka Norah Jones juga ya?” Tanyaku memulai percakapan, sambil terus mencari – cari kaset buruanku itu. Akan tetapi dia terus bersenandung seperti tidak mendengarku.
Aku mencoba mengulangi pertanyaanku, “Mbak, suka Norah Jones ya? Saya juga lho…” Tapi dia tetap saja bersikap seolah – olah tidak mendengar pertanyaanku. Aku jadi agak bete juga.
Sambil tetap mencari album Norah Jones aku pun berkata, “Mbak ini pura – pura tuli apa tuli beneran sih? Dari tadi ditanyain kok nggak bereaksi sama sekali?”
Tiba – tiba dia berpaling ke arah penjaga toko dan berkata, “Mbak, Mbak… kayaknya mas yang ada di samping saya ini agak kurang sehat deh, soalnya dari tadi ngomong terus sama kaset!”
Aku terperanjat mendengar kata – kata dia dan melihat ke arah penjaga toko. Aku tidak mau kalah, jadi tanganku menunjuk ke arah cewek itu dan setelah itu membuat gerakan silang di dahi. Penjaga toko itu hanya tersenyum saja.
Sepertinya cewek itu merasakan ada yang tidak beres, sehingga dia membalikkan badannya ke arahku, tepat ketika jari telunjuk kananku berada dalam posisi menyilang di atas dahi. Aku terkejut. Lalu untuk menyembunyikan rasa malu, pelan – pelan aku membalikkan tubuhku dan kembali mencari kaset itu. Tak lama kemudian aku menemukan kaset yang kucari. Aku segera mengambilnya dan bergegas pergi ke arah kasir, tetapi aku tidak tahu kalau dia ternyata membuntutiku.
“Mas suka Norah Jones juga ya?”
Aku kaget mendengar suara itu dan memalingkan mukaku ke arah suara tadi, ternyata cewek yang tadi. Aku nggak tahu apa yang mesti kulakukan.
“I-I-iya…” Jawabku gelagepan. Penjaga kasir yang melihatku salah tingkah pun tersenyum.
“Sama dong, kalau begitu. Tadi aku juga lagi nyari album terbarunya dia, dan ternyata Mas yang nemuin duluan. Thanks lho Mas, soalnya aku nggak perlu susah – susah nyari lagi.”
Aku hanya bisa mengangguk saja. Setelah membayar, aku cepat – cepat menuju tempat parkir dan mengambil motorku kemudian pulang ke rumah.
***
Kriiing… kriiiing… kriiiing… Dering telepon memecah lamunanku malam itu. Aku segera keluar dari kamar dan mengangkat gagang telepon.
“Halo, selamat sore.”
“Halo, Candra? Ini aku, Erna,” jawab sebuah suara yang terdengar cukup familiar di telingaku.
“Oh, iya. Ada apa, Er?”
“Kamu bisa nggak, nganterin aku ke toko buku? Aku musti beli beberapa buku nih. Gimana, bisa nggak?
“Sekarang?”
“Iya. Gimana, bisa nggak? Bisa ya, pliiisss…”
“Bisa sih, tapi…”
“Tapi apa?” Tanya Erna penasaran.
“Kamu musti beliin aku obat,”
“Obat? Obat apaan?” Tanyanya lagi.
“Itu.. obat laper.”
“Huuu… dasar gembul! Kalo soal itu sih, gue yang tanggung, tenang aja…” Sahut Erna.
“OK, berarti kita sepakat. Tunggu aku lima belas menit lagi,” kataku sambil menutup gagang telepon. Aku segera bersiap–siap untuk pergi ke rumah Erna.
“Mau kemana, Kak?” Tanya adikku yang baru saja pulang dari les piano.
“MTA.” Jawabku.
“Apaan tuh, MTA?”
“Mo’ Tau Aja…”
“Huuu… nggak lucu!”
***
Erna ternyata sudah menunggu di depan rumahnya.
“Kok lama banget, sih? Katanya lima belas menit,” ujar Erna sambil memonyong – monyongkan bibirnya.
“Ampuni hamba, Tuan Putri, di tengah perjalanan tadi hamba harus bertarung dengan 3 ekor naga yang sangat kuat.”
“Udah ah, percuma ngomong ama Raja Naga. Ayo cepetan berangkat…!”
“Baiklah Tuan Putri Naga.”
Aku melajukan motorku ke toko buku. Sesampainya di sana Erna segera menghilang ke dalam rak – rak buku untuk mencari buku – buku yang hendak dibelinya. Sementara itu aku berjalan sendiri melihat – lihat berbagai jenis alat musik yang dipajang di counter alat musik.
“Cari apa, Mas?” Sepertinya aku pernah mendengar suara itu.
Aku menoleh ke arah sumber suara, dan ternyata pemilik suara itu adalah cewek cantik yang bertemu denganku di toko kaset dua hari yang lalu.
“Mmm…Nggak… nggak cari apa – apa kok, cuman liat – liat aja.” Jawabku agak terbata – bata.
“Gimana kabarnya Norah Jones? Oke nggak?” Tanyanya.
Aku hanya bisa mengangguk. Rasa kaget bercampur grogi membuat sekujur tubuhku terasa lemas sekali. Aku tidak pernah menduga akan bertemu dia lagi, apalagi di tempat ini.
“Eh, kayaknya kita belum kenalan deh. Kenalin, namaku Asri, sekarang kelas dua sepuluh di SMA 4. Rumahku di jalan Sultan Agung nomor tiga puluh lima.” Lanjutnya sambil mengulurkan tangannya.
Aku pun mengulurkan tanganku dan memperkenalkan diri, “Obed, kelas tiga IPS satu di SMA 3. Rumahku di jalan MT Haryono nomor tujuh empat enam.” Hatiku terasa aneh sekali. Di satu sisi aku ingin terus bersama dia seperti ini, tapi di sisi lain rasa grogiku membuat aku ingin segera menghilang dari hadapannya.
“Oke, kita sudah kenalan. Oh iya…” cewek itu mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya, “Ini kartu namaku. Kapan – kapan maen ke rumah, oke?” Tambahnya.
“Oh… iya, iya…” Jawabku sambil menerima kartu nama itu.
“Mas Obed, Asri lagi buru – buru nih, jadi musti pergi sekarang. Kapan – kapan maen ke rumah ya, awas kalo nggak, aku laporin ama penjaga toko kaset yang kemaren…” Ancamnya.
“Iya… iya… pasti…” Jawabku. Dia kemudian berjalan menuju pintu keluar dan dalam sekejap menghilang dari pandangan mataku.
Tak lama kemudian Erna pun datang sambil membawa tas berisi buku – buku yang dibelinya. Setelah itu kami membeli obat lapar alias makan, sesuai perjanjian, lalu aku mengantarkan dia pulang ke rumahnya.
***
Keesokan harinya sepulang sekolah aku memberanikan diri untuk pergi ke rumah Asri. Hmmm… let’s see, jalan Sultan Agung nomor tiga puluh lima, kataku dalam hati sambil membaca kartu nama yang dia berikan kepadaku pada waktu kami bertemu di toko buku. Aku segera melajukan motorku ke arah jalan Sultan Agung.
Beberapa saat kemudian sampailah aku di rumahnya. Sebuah rumah yang sesuai dengan nama pemiliknya, Asri. Meskipun halamannya tidak begitu luas tetapi beragam tanaman yang tertata rapi bisa membuat hati merasa nyaman dan sejuk. Aku memencet bel rumah tersebut dan tidak lama seorang wanita datang ke arahku.
“Mencari siapa, Mas?” Tanyanya.
“Asri.”
“Ooo… mencari non Asri,” katanya sambil membuka pintu pagar, “Silakan tunggu sebentar, non Asri sedang makan siang.”
“Ya. Terima kasih, Bu.” Aku menuju ke teras rumahnya dan duduk di kursi, menunggu Asri selesai makan siang. Aku meluruskan kedua kakiku yang terasa sedikit pegal karena tadi pagi ada pelajaran oleh raga dan kami sekelas harus berlari mengelilingi kompleks sekolah sebanyak 2 kali.
“Eh, Mas Obed. Udah lama nunggu, Mas? Sori ya, soalnya Asri tadi lagi makan siang.” Asri tiba – tiba keluar dari pintu. Aku sedikit kaget dibuatnya.
“Mas Obed mo’ minum apa? Teh? Sirup? Kopi?” tawarnya.
“Air putih saja,” jawabku, “Cuman terserah kamu mo’ ditambahin apa.” Aku mencoba bercanda. Dia tertawa kecil.
“Ya udah, kalo gitu Asri buatin sebentar ya? Tunggu aja lima menit lagi…” katanya sambil masuk ke dalam rumah.
Tidak lama kemudian dia keluar sambil membawa 2 gelas sirup.
“Nih, Asri buatin es sirup. Tadinya sih Asri mo’ bikin teh, tapi ternyata kebun teh di belakang rumah lagi diserang hama. Udah gitu mo’ bikin kopi, tapi kebun kopinya belum menghasilkan. Terus, Asri mo’ bikinin susu, tapi sapinya tadi lagi sekolah, jadinya Asri bikin yang ada aja. Nggak pa-pa kan, Mas?”
Wah, cewek ini ternyata suka becanda juga, pikirku dalam hati. Aku tersenyum dan mengangguk, “Nggak pa-pa kok.”
Setelah itu kami ngomongin banyak hal, mulai dari musik sampai politik. Ternyata meskipun dia masih kelas dua tapi pemikirannya luas juga, dan kebanyakan pendapatnya tentang suatu hal sama denganku. Aku jadi makin penasaran aja sama dia, soalnya dari semua temen cewekku yang lain, dia ini yang paling bisa nyambung sama aku, dia seolah – olah tahu jalan pikiranku. Selain itu dia juga open banget, terbukti dari percekapan yang cuman sekitar 2 jam sore itu aku kayak udah kenal banget sama dia. Plus, dia juga suka nyanyi dan suaranya juga bagus, persis seperti cewek idamanku. Tapi kalo ada cewek seperti dia, aku pikir pasti udah punya cowok, jadi aku lebih memilih untuk sohiban aja sama dia.
***
Kira – kira dua tahun kemudian, tepatnya kemarin, Asri menelpon dan memintaku untuk datang ke rumahnya. Karena lagi nggak ada kegiatan, aku pun menyanggupi dan segera meluncur ke rumahnya. Sekarang dia sudah lulus dan kuliah di Fakultas Hukum universitas negeri yang ada di kota kami, sedangkan aku kuliah di Fakultas Peternakan di universitas yang sama. Erna nerusin cita – citanya dan ngambil kuliah filsafat di Jogja. Sesampai di rumahnya aku melihat dia sedang membaca koran di teras.
“Eh, kamu udah datang…” Katanya sambil melipat koran yang sedang dibacanya dan membukakan pintu pagar. Segelas sirup sudah tersedia di meja.
“Ada apaan nih, tumben aku disuruh main siang – siang gini. Kamu lagi ada masalah ya?” Tanyaku. Dia nggak menjawab, hanya mempersilakan aku duduk. Setelah kami duduk, barulah dia memulai percakapan.
“Mas Obed, masih inget nggak waktu pertama kali maen ke sini?” Tanyanya.
“Ya jelas dong,” jawabku, “Waktu itu kan….” Aku berpura – pura mengingat – ingat sesuatu, “Waktu itu kan kebun tehmu lagi diserang hama, teruuusss…. Kebun kopimu belum ada hasilnya, terus apalagi ya? O iya! Sapimu masih sekolah, iya kan?”
“Yee… yang diinget kok yang itu sih,” sahutnya sambil tertawa.
“Mas, aku pengen ngomong serius nih,” katanya. Mimik wajahnya berubah serius. Aku pun jadi ikut – ikutan serius.
“Emangnya ada apa sih, Sri?” Tanyaku penasaran.
Asri menghela nafas sebentar, “Hari ini tepat dua tahun sejak kamu maen ke sini waktu itu. Waktu itu Asri ngerasa aneh banget, soalnya kamu itu ngomongnya nyambung banget sama Asri, dan di antara temen – temen Asri yang laen, kamu itu yang paling terbuka, kecuali satu hal.” Asri berhenti berbicara.
“Apa itu?” Hatiku mulai ngerasa deg – degan, persis seperti dua tahun yang lalu.
“Mmm…” Nggak biasanya Asri susah ngomong seperti itu, tapi akhirnya dia melanjutkan omongannya, “Cinta.” Aku sedikit kaget. Untuk menutupinya aku mengambil sirup yang ada di hadapan kami dan meminumnya.
“Ehm… memangnya kenapa?” Tanyaku.
“Sebenernya sejak saat itu Asri mulai suka sama kamu, tapi berhubung Asri punya prinsip kalo masih sekolah Asri nggak akan pacaran dulu, jadi Asri pendam perasaan itu meskipun susahnya minta ampun… Selain itu Asri juga takut jangan – jangan kamu udah punya pacar. Tapi sekarang Asri udah kuliah dan Asri mo’ belajar buat ngungkapin perasaan Asri dan Asri siap menanggung segala resikonya.” Dia menatap kedua mataku dalam – dalam, “Mas Obed, Asri suka sama Mas Obed, dan meskipun mungkin Asri bukan yang pertama, Asri pengen jadi cewek terakhir di hati Mas Obed.”
“Asri, ambilin gitar dong, aku pengen nyanyi sebuah lagu yang aku bikin buat kamu.” Asri pun masuk ke dalam dan tak lama kemudian ke luar membawa sebuah gitar.
Aku pun mulai menyanyikan laguku untuknya. Lagu yang khusus kubuat untuk saat – saat seperti itu:
I’ve been waiting for you all this time,
Been longing for you all the time,
And it’s true, and it’s true.
I’ve been praying for you all this time,
Been asking God that you’d be mine,
And it’s true.
For I have been in love with you, girl,
And you’re all that I need;
And all I want to do is
To grow old with you.
“Lagu ini kubuat untuk kamu, dan memang sebenernya aku juga suka sama kamu, Sri, tapi aku juga takut jangan – jangan kamu udah punya pacar. Jadinya aku lebih memilih untuk jadi sohibmu aja, asal aku masih bisa terus maen dan ketemu kamu. Thanks ya, soalnya kalo kamu nggak ngomong duluan, aku nggak akan pernah tau isi hati kamu, dan pasti nggak akan pernah ngungkapin perasaanku sama kamu.”
“Thanks, Mas, buat lagunya. It’s great!” katanya.
Kami saling memandang, tapi kali ini dengan perasaan yang beda. Semoga, seperti laguku, kami bisa terus bersama sampai tua.
Sekarang udah jam setengah tujuh. Udah waktunya aku berangkat ke jalan Sultan Agung nomor tiga puluh lima untuk malam Minggu pertama kami. Ah… dunia ini semakin indah rasanya….
24 Juni 2008 at 9:29 am
Wow…oooo….ooo..Romantis banget! kayak di sinetron…. kalo cocok terusin aja…maju nterus ….pantang mundur…!