April 2008


Aku sudah berusaha untuk berkonsentrasi pada buku pelajaran yang sedang kubaca, tapi tetap saja pikiranku masih terganggu dengan wajah cewek yang kutemui hari Selasa dua hari yang lalu di toko kaset. Waktu itu aku lagi nyariin kaset paling gresnya Norah Jones dan kebetulan saat itu dia berada di bagian musik jazz. Sebetulnya aku nggak begitu memperhatiin dia karena aku sedang berkonsentrasi untuk mencari album terbaru Norah Jones itu, akan tetapi tiba – tiba dia sambil bergumam menyanyikan bagian refrain dari lagu Sunrise, lagu terbarunya Norah Jones yang menjadi lagu andalan album yang sedang kucari, dan suaranya terdengar jazzy banget, hampir mirip dengan suara penyanyi aslinya. Rasa penasaranku pun mulai timbul.

“Suka Norah Jones juga ya?” Tanyaku memulai percakapan, sambil terus mencari – cari kaset buruanku itu. Akan tetapi dia terus bersenandung seperti tidak mendengarku.

Aku mencoba mengulangi pertanyaanku, “Mbak, suka Norah Jones ya? Saya juga lho…” Tapi dia tetap saja bersikap seolah – olah tidak mendengar pertanyaanku. Aku jadi agak bete juga.

Sambil tetap mencari album Norah Jones aku pun berkata, “Mbak ini pura – pura tuli apa tuli beneran sih? Dari tadi ditanyain kok nggak bereaksi sama sekali?”

Tiba – tiba dia berpaling ke arah penjaga toko dan berkata, “Mbak, Mbak… kayaknya mas yang ada di samping saya ini agak kurang sehat deh, soalnya dari tadi ngomong terus sama kaset!”

Aku terperanjat mendengar kata – kata dia dan melihat ke arah penjaga toko. Aku tidak mau kalah, jadi tanganku menunjuk ke arah cewek itu dan setelah itu membuat gerakan silang di dahi. Penjaga toko itu hanya tersenyum saja.

Sepertinya cewek itu merasakan ada yang tidak beres, sehingga dia membalikkan badannya ke arahku, tepat ketika jari telunjuk kananku berada dalam posisi menyilang di atas dahi. Aku terkejut. Lalu untuk menyembunyikan rasa malu, pelan – pelan aku membalikkan tubuhku dan kembali mencari kaset itu. Tak lama kemudian aku menemukan kaset yang kucari. Aku segera mengambilnya dan bergegas pergi ke arah kasir, tetapi aku tidak tahu kalau dia ternyata membuntutiku.

“Mas suka Norah Jones juga ya?”

Aku kaget mendengar suara itu dan memalingkan mukaku ke arah suara tadi, ternyata cewek yang tadi. Aku nggak tahu apa yang mesti kulakukan.

“I-I-iya…” Jawabku gelagepan. Penjaga kasir yang melihatku salah tingkah pun tersenyum.

“Sama dong, kalau begitu. Tadi aku juga lagi nyari album terbarunya dia, dan ternyata Mas yang nemuin duluan. Thanks lho Mas, soalnya aku nggak perlu susah – susah nyari lagi.”

Aku hanya bisa mengangguk saja. Setelah membayar, aku cepat – cepat menuju tempat parkir dan mengambil motorku kemudian pulang ke rumah.

***

Kriiing… kriiiing… kriiiing… Dering telepon memecah lamunanku malam itu. Aku segera keluar dari kamar dan mengangkat gagang telepon.

“Halo, selamat sore.”

“Halo, Candra? Ini aku, Erna,” jawab sebuah suara yang terdengar cukup familiar di telingaku.

“Oh, iya. Ada apa, Er?”

“Kamu bisa nggak, nganterin aku ke toko buku? Aku musti beli beberapa buku nih. Gimana, bisa nggak?

“Sekarang?”

“Iya. Gimana, bisa nggak? Bisa ya, pliiisss…”

“Bisa sih, tapi…”

“Tapi apa?” Tanya Erna penasaran.

“Kamu musti beliin aku obat,”

“Obat? Obat apaan?” Tanyanya lagi.

“Itu.. obat laper.”

“Huuu… dasar gembul! Kalo soal itu sih, gue yang tanggung, tenang aja…” Sahut Erna.

“OK, berarti kita sepakat. Tunggu aku lima belas menit lagi,” kataku sambil menutup gagang telepon. Aku segera bersiap–siap untuk pergi ke rumah Erna.

“Mau kemana, Kak?” Tanya adikku yang baru saja pulang dari les piano.

“MTA.” Jawabku.

“Apaan tuh, MTA?”

“Mo’ Tau Aja…”

“Huuu… nggak lucu!”

***

Erna ternyata sudah menunggu di depan rumahnya.

“Kok lama banget, sih? Katanya lima belas menit,” ujar Erna sambil memonyong – monyongkan bibirnya.

“Ampuni hamba, Tuan Putri, di tengah perjalanan tadi hamba harus bertarung dengan 3 ekor naga yang sangat kuat.”

“Udah ah, percuma ngomong ama Raja Naga. Ayo cepetan berangkat…!”

“Baiklah Tuan Putri Naga.”

Aku melajukan motorku ke toko buku. Sesampainya di sana Erna segera menghilang ke dalam rak – rak buku untuk mencari buku – buku yang hendak dibelinya. Sementara itu aku berjalan sendiri melihat – lihat berbagai jenis alat musik yang dipajang di counter alat musik.

“Cari apa, Mas?” Sepertinya aku pernah mendengar suara itu.

Aku menoleh ke arah sumber suara, dan ternyata pemilik suara itu adalah cewek cantik yang bertemu denganku di toko kaset dua hari yang lalu.

“Mmm…Nggaknggak cari apa – apa kok, cuman liat – liat aja.” Jawabku agak terbata – bata.

“Gimana kabarnya Norah Jones? Oke nggak?” Tanyanya.

Aku hanya bisa mengangguk. Rasa kaget bercampur grogi membuat sekujur tubuhku terasa lemas sekali. Aku tidak pernah menduga akan bertemu dia lagi, apalagi di tempat ini.

“Eh, kayaknya kita belum kenalan deh. Kenalin, namaku Asri, sekarang kelas dua sepuluh di SMA 4. Rumahku di jalan Sultan Agung nomor tiga puluh lima.” Lanjutnya sambil mengulurkan tangannya.

Aku pun mengulurkan tanganku dan memperkenalkan diri, “Obed, kelas tiga IPS satu di SMA 3. Rumahku di jalan MT Haryono nomor tujuh empat enam.” Hatiku terasa aneh sekali. Di satu sisi aku ingin terus bersama dia seperti ini, tapi di sisi lain rasa grogiku membuat aku ingin segera menghilang dari hadapannya.

“Oke, kita sudah kenalan. Oh iya…” cewek itu mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya, “Ini kartu namaku. Kapan – kapan maen ke rumah, oke?” Tambahnya.

“Oh… iya, iya…” Jawabku sambil menerima kartu nama itu.

“Mas Obed, Asri lagi buru – buru nih, jadi musti pergi sekarang. Kapan – kapan maen ke rumah ya, awas kalo nggak, aku laporin ama penjaga toko kaset yang kemaren…” Ancamnya.

“Iya… iya… pasti…” Jawabku. Dia kemudian berjalan menuju pintu keluar dan dalam sekejap menghilang dari pandangan mataku.

Tak lama kemudian Erna pun datang sambil membawa tas berisi buku – buku yang dibelinya. Setelah itu kami membeli obat lapar alias makan, sesuai perjanjian, lalu aku mengantarkan dia pulang ke rumahnya.

***

Keesokan harinya sepulang sekolah aku memberanikan diri untuk pergi ke rumah Asri. Hmmm… let’s see, jalan Sultan Agung nomor tiga puluh lima, kataku dalam hati sambil membaca kartu nama yang dia berikan kepadaku pada waktu kami bertemu di toko buku. Aku segera melajukan motorku ke arah jalan Sultan Agung.

Beberapa saat kemudian sampailah aku di rumahnya. Sebuah rumah yang sesuai dengan nama pemiliknya, Asri. Meskipun halamannya tidak begitu luas tetapi beragam tanaman yang tertata rapi bisa membuat hati merasa nyaman dan sejuk. Aku memencet bel rumah tersebut dan tidak lama seorang wanita datang ke arahku.

“Mencari siapa, Mas?” Tanyanya.

“Asri.”

“Ooo… mencari non Asri,” katanya sambil membuka pintu pagar, “Silakan tunggu sebentar, non Asri sedang makan siang.”

“Ya. Terima kasih, Bu.” Aku menuju ke teras rumahnya dan duduk di kursi, menunggu Asri selesai makan siang. Aku meluruskan kedua kakiku yang terasa sedikit pegal karena tadi pagi ada pelajaran oleh raga dan kami sekelas harus berlari mengelilingi kompleks sekolah sebanyak 2 kali.

“Eh, Mas Obed. Udah lama nunggu, Mas? Sori ya, soalnya Asri tadi lagi makan siang.” Asri tiba – tiba keluar dari pintu. Aku sedikit kaget dibuatnya.

“Mas Obed mo’ minum apa? Teh? Sirup? Kopi?” tawarnya.

“Air putih saja,” jawabku, “Cuman terserah kamu mo’ ditambahin apa.” Aku mencoba bercanda. Dia tertawa kecil.

“Ya udah, kalo gitu Asri buatin sebentar ya? Tunggu aja lima menit lagi…” katanya sambil masuk ke dalam rumah.

Tidak lama kemudian dia keluar sambil membawa 2 gelas sirup.

“Nih, Asri buatin es sirup. Tadinya sih Asri mo’ bikin teh, tapi ternyata kebun teh di belakang rumah lagi diserang hama. Udah gitu mo’ bikin kopi, tapi kebun kopinya belum menghasilkan. Terus, Asri mo’ bikinin susu, tapi sapinya tadi lagi sekolah, jadinya Asri bikin yang ada aja. Nggak pa-pa kan, Mas?”

Wah, cewek ini ternyata suka becanda juga, pikirku dalam hati. Aku tersenyum dan mengangguk, “Nggak pa-pa kok.”

Setelah itu kami ngomongin banyak hal, mulai dari musik sampai politik. Ternyata meskipun dia masih kelas dua tapi pemikirannya luas juga, dan kebanyakan pendapatnya tentang suatu hal sama denganku. Aku jadi makin penasaran aja sama dia, soalnya dari semua temen cewekku yang lain, dia ini yang paling bisa nyambung sama aku, dia seolah – olah tahu jalan pikiranku. Selain itu dia juga open banget, terbukti dari percekapan yang cuman sekitar 2 jam sore itu aku kayak udah kenal banget sama dia. Plus, dia juga suka nyanyi dan suaranya juga bagus, persis seperti cewek idamanku. Tapi kalo ada cewek seperti dia, aku pikir pasti udah punya cowok, jadi aku lebih memilih untuk sohiban aja sama dia.

***

Kira – kira dua tahun kemudian, tepatnya kemarin, Asri menelpon dan memintaku untuk datang ke rumahnya. Karena lagi nggak ada kegiatan, aku pun menyanggupi dan segera meluncur ke rumahnya. Sekarang dia sudah lulus dan kuliah di Fakultas Hukum universitas negeri yang ada di kota kami, sedangkan aku kuliah di Fakultas Peternakan di universitas yang sama. Erna nerusin cita – citanya dan ngambil kuliah filsafat di Jogja. Sesampai di rumahnya aku melihat dia sedang membaca koran di teras.

“Eh, kamu udah datang…” Katanya sambil melipat koran yang sedang dibacanya dan membukakan pintu pagar. Segelas sirup sudah tersedia di meja.

“Ada apaan nih, tumben aku disuruh main siang – siang gini. Kamu lagi ada masalah ya?” Tanyaku. Dia nggak menjawab, hanya mempersilakan aku duduk. Setelah kami duduk, barulah dia memulai percakapan.

“Mas Obed, masih inget nggak waktu pertama kali maen ke sini?” Tanyanya.

“Ya jelas dong,” jawabku, “Waktu itu kan….” Aku berpura – pura mengingat – ingat sesuatu, “Waktu itu kan kebun tehmu lagi diserang hama, teruuusss…. Kebun kopimu belum ada hasilnya, terus apalagi ya? O iya! Sapimu masih sekolah, iya kan?”

“Yee… yang diinget kok yang itu sih,” sahutnya sambil tertawa.

“Mas, aku pengen ngomong serius nih,” katanya. Mimik wajahnya berubah serius. Aku pun jadi ikut – ikutan serius.

“Emangnya ada apa sih, Sri?” Tanyaku penasaran.

Asri menghela nafas sebentar, “Hari ini tepat dua tahun sejak kamu maen ke sini waktu itu. Waktu itu Asri ngerasa aneh banget, soalnya kamu itu ngomongnya nyambung banget sama Asri, dan di antara temen – temen Asri yang laen, kamu itu yang paling terbuka, kecuali satu hal.” Asri berhenti berbicara.

“Apa itu?” Hatiku mulai ngerasa deg – degan, persis seperti dua tahun yang lalu.

“Mmm…” Nggak biasanya Asri susah ngomong seperti itu, tapi akhirnya dia melanjutkan omongannya, “Cinta.” Aku sedikit kaget. Untuk menutupinya aku mengambil sirup yang ada di hadapan kami dan meminumnya.

“Ehm… memangnya kenapa?” Tanyaku.

“Sebenernya sejak saat itu Asri mulai suka sama kamu, tapi berhubung Asri punya prinsip kalo masih sekolah Asri nggak akan pacaran dulu, jadi Asri pendam perasaan itu meskipun susahnya minta ampun… Selain itu Asri juga takut jangan – jangan kamu udah punya pacar. Tapi sekarang Asri udah kuliah dan Asri mo’ belajar buat ngungkapin perasaan Asri dan Asri siap menanggung segala resikonya.” Dia menatap kedua mataku dalam – dalam, “Mas Obed, Asri suka sama Mas Obed, dan meskipun mungkin Asri bukan yang pertama, Asri pengen jadi cewek terakhir di hati Mas Obed.”

“Asri, ambilin gitar dong, aku pengen nyanyi sebuah lagu yang aku bikin buat kamu.” Asri pun masuk ke dalam dan tak lama kemudian ke luar membawa sebuah gitar.

Aku pun mulai menyanyikan laguku untuknya. Lagu yang khusus kubuat untuk saat – saat seperti itu:

I’ve been waiting for you all this time,

Been longing for you all the time,

And it’s true, and it’s true.

I’ve been praying for you all this time,

Been asking God that you’d be mine,

And it’s true.

For I have been in love with you, girl,

And you’re all that I need;

And all I want to do is

To grow old with you.

“Lagu ini kubuat untuk kamu, dan memang sebenernya aku juga suka sama kamu, Sri, tapi aku juga takut jangan – jangan kamu udah punya pacar. Jadinya aku lebih memilih untuk jadi sohibmu aja, asal aku masih bisa terus maen dan ketemu kamu. Thanks ya, soalnya kalo kamu nggak ngomong duluan, aku nggak akan pernah tau isi hati kamu, dan pasti nggak akan pernah ngungkapin perasaanku sama kamu.”

Thanks, Mas, buat lagunya. It’s great!” katanya.

Kami saling memandang, tapi kali ini dengan perasaan yang beda. Semoga, seperti laguku, kami bisa terus bersama sampai tua.

Sekarang udah jam setengah tujuh. Udah waktunya aku berangkat ke jalan Sultan Agung nomor tiga puluh lima untuk malam Minggu pertama kami. Ah… dunia ini semakin indah rasanya….

“Pokoknya aku ingin dikuburkan di bulan, titik!” Teriak Mbah Sudirjo. Sedetik kemudian beliau terbatuk – batuk, dan suster perawat dengan sigap mengambilkan minum untuk pasien yang sudah renta itu.

Pak Parno, putra tertua Mbah Sudirjo yang bekerja di kantor kecamatan hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya demi mendengar permintaan ayahnya yang nganeh – nganehi itu. Bahkan mungkin permintaan beliau belum pernah ada dalam sejarah peradaban manusia di bumi ini. Pak Parno galau. Sebagai seorang anak ia ingin sekali membahagiakan ayahnya, salah satu caranya dengan memenuhi wasiat terakhir beliau. Akan tetapi permintaan ayahnya jelas – jelas mustahil untuk dilaksanakan.

“Mustahil apanya?” Kata Mbah Sudirjo kepada Pak Parno dua hari yang lalu ketika dia mencoba membujuk ayahnya untuk membatalkan wasiatnya. “Bukankah di negerimu ini tidak ada yang mustahil untuk dilakukan? Bukankah peribahasa sekejam – kejamnya harimau tidak akan memangsa anaknya sendiri sudah dipecahkan di sini? Bukankah di sini kejahatan yang tidak mungkin menang ternyata dapat mengalahkan kebenaran? Lalu semustahil apakah permintaanku ini?” sambung Mbah Sudirjo berapi – api.

“Tapi yang ini lain, Pak,” kata Parno, “kita belum punya teknologi secanggih Amerika dan Eropa, yang bisa membawa manusia ke bulan. Teknologi kita sangat jauh tertinggal dari mereka, Pak.”

“Itu masalah kalian, dan aku tidak mau tahu. Pokoknya aku harus dikuburkan di bulan!” Mbah Sudirjo memalingkan mukanya ke arah lain. “Salah kalian sendiri, yang mengabaikan pendidikan. Yang kalian pikirkan hanya pembangunan pabrik – pabrik yang bikin kotor dan gedung – gedung bertingkat yang bikin panas kota ini.”

Pak Parno terdiam. Di dalam hati dia menyetujui pendapat ayahnya itu, tetapi dia tidak dapat berbuat apa – apa untuk itu, karena dia hanya seorang pegawai administrasi di kantor kecamatan. Dilihatnya jam tangannya, sudah hampir jam satu siang. Itu artinya dia harus segera kembali ke kantor.

“Pak, sudah hampir jam satu siang, saya harus kembali ke kantor. Nanti biar si Burhan yang menemani Bapak di sini.” Pamit Pak Parno. Mbah Sudirjo tidak bergeming.

***

Berita cepat tersebar di negeri tempat Pak Parno mengabdikan dirinya, apalagi ditunjang dengan teknologi informasi yang semakin canggih. Dalam waktu 3 hari, berita tentang wasiat terakhir Mbah Sudirjo segera tersiar ke seluruh penjuru pelosok negeri. Perbincangan – perbincangan gaya dialog maupun talk show pun bermunculan di stasiun – stasiun televisi. Berbagai macam pengamat dan narasumber ahli pun diundang untuk berdiskusi mengenai wasiat terakhir Mbah Sudirjo, mulai dari pengamat ekonomi, psikolog, hingga tukang gali kubur setempat.

Mbah Sudirjo telah menjadi selebriti! Setiap hari pasti selalu ada saja wartawan dari media massa cetak maupun elektronik yang datang untuk meliput perkembangan terakhir Mbah Sudirjo, belum lagi orang – orang yang penasaran setelah mendengar atau membaca berita tentang wasiat itu. Hal ini membuat pihak rumah sakit kerepotan dan akhirnya mengambil keputusan untuk memindahkan Mbah Sudirjo ke kamar VVIP, supaya hiruk pikuk wartawan dan pengunjung tidak mengganggu pasien – pasien yang lain. Sebuah perusahaan televisi swasta berhasil melobi pihak rumah sakit sehingga memiliki ijin eksklusif untuk melakukan siaran langsung wawancara dengan Mbah Sudirjo. Sedangkan seluruh biaya rumah sakit ditanggung oleh sebuah maskapai penerbangan terkemuka.

***

3 hari setelah pemindahan Mbah Sudirjo ke ruang VVIP, badan antariksa Amerika yang bernama NASA menelepon menteri luar negeri dan menyatakan ketertarikan dan keinginan mereka untuk membantu Pak Parno melaksanakan wasiat terakhir ayahnya. Mereka menawarkan untuk membawa jenasah Mbah Sudirjo pada misi perjalanan ke bulan berikutnya.

“Betulkah?” Tanya Pak Parno setengah tak percaya ketika petugas resepsionis rumah sakit memberitahukan kepadanya mengenai hal itu.

“Betul, Pak. Bahkan perwakilan dari mereka akan menuju ke mari bersama dengan rombongan Presiden besok siang.” Jawab resepsionis itu meyakinkan.

“Darimana Mbak tahu?”

“Tadi pagi kementerian luar negeri menelepon ke sini.”

Wajah Pak Parno berubah. Dia tidak nampak bahagia sama sekali tentang hal itu.

“Lho, bukankah seharusnya Bapak merasa senang karena akhirnya wasiat Mbah Sudirjo bisa dilaksanakan, kenapa air muka Bapak malah tampak sedih?” Tanya petugas itu penasaran.

“Karena tadi malam beliau membatalkan wasiatnya.” Jawab Pak Parno pelan.

“Hah?! Bagaimana beliau bisa berubah pendapat? Bukankah kata Bapak, beliau adalah seorang yang berpendirian keras?” Rasa penasaran semakin bertambah di hati sang resepsionis.

“Saya tidak bisa mengatakan sebabnya. Biarlah beliau sendiri yang mengatakannya.”

***

Siang itu jumpa pers pun digelar. Semua media massa dari dalam maupun luar negeri pun berkumpul di aula rumah sakit untuk mendengarkan secara langsung pernyataan Mbah Sudirjo perihal pembatalan wasiat terakhirnya.

“Saudara – saudara sekalian,” kata Burhan yang selama ini menjadi juru bicara keluarga, “harap tenang, karena sebentar lagi ayah saya akan masuk ruangan ini untuk memberikan pernyataan.” Suara hiruk pikuk mendadak berubah senyap.

Beberapa saat kemudian Mbah Sudirjo terlihat memasuki ruangan dengan kursi roda dan dibantu oleh 2 orang suster yang cantik. Cantik karena mereka adalah suster pilihan yang diutus oleh sebuah produsen kosmetik, yang menjadi salah satu sponsor wasiat terakhir Mbah Sudirjo. Perusahaan itu rencananya akan mendandani beliau dengan produk mereka pada waktu beliau meninggal dan dibawa ke bulan nantinya.

“Selamat siang Saudara – Saudara,” kata Mbah Sudirjo mengawali pernyataannya, “saat ini saya akan memberikan pernyataan seputar wasiat terakhir saya.” Semua mata dan telinga tertuju pada beliau.

“Mengenai pembatalan wasiat terakhir saya untuk dikebumikan di bulan, hal itu memang sepenuhnya benar,” belum selesai Mbah Sudirjo berbicara, seluruh ruangan menjadi ramai. Masing – masing saling berbisik – bisik dengan teman di sebelahnya.

“Mengapa Anda memutuskan untuk membatalkan wasait terakhir Anda tersebut?” Tanya salah seorang wartawan cetak.

“Apakah Anda mengambil keputusan itu sendiri, ataukah ada tekanan dari pihak – pihak yang berkuasa?” Tanya yang lain lagi.

“Anda dibayar berapa untuk membatalkan wasiat terakhir Anda itu?”

“Lalu bagaimana pula dengan tanggung jawab Anda terhadap rakyat dan para sponsor yang mendukung wasiat Anda itu?”

“Tolong semuanya tenang sebentar!” Pinta Burhan sambil mengangkat tangan kanannya tinggi – tinggi. “Biarkan ayah saya melanjutkan pernyataannya.” Seluruh ruangan perlahan – lahan mulai tenang kembali.

Mbah Sudirjo melanjutkan pernyataannya, “Pertama saya ingin meminta maaf sebesar – besarnya kepada masyarakat dan semua pihak atas pembatalan wasiat terakhir ini. Pembatalan ini disebabkan karena dua hari yang lalu sekitar pukul satu dinihari, saya didatangi oleh seorang malaikat utusan Tuhan.” Mbah Sudirjo berhenti sejenak, lalu melanjutkan lagi, “Beliau mengatakan bahwa Tuhan sangat marah atas wasiat terakhir saya itu, terlebih dengan alasan saya yang selama ini saya kemukakan. Saat itu juga saya diperlihatkan seluruh kesalahan yang pernah saya buat sepanjang hidup saya, dan sungguh, saya sendiri sangat terkejut dengan apa yang saya lihat. Kemudian setelah memperlihatkan semuanya itu, malaikat itu berkata kepada saya, ‘Kamu itu tidak ada bedanya sama sekali dengan mereka yang kamu anggap jahat. Oleh karena itu Tuhan tidak rela jikalau jasadmu mengotori rembulan-Nya.’ Setelah itu dia menghilang dan meninggalkan cahaya yang luar biasa terang di dalam kamar saya. Saat itu juga saya langsung memohon ampun kepada Tuhan atas kesombongan saya, menganggap diri sebagai orang yang paling suci dan paling layak untuk disemayamkan di bulan. Seharian saya menyimpan pengalaman itu, dan tadi malam saya baru menceritakannya kepada kedua putra saya.”

Penjelasan itu membuat seluruh ruangan kembali ramai. Para pemirsa di rumah yang menyaksikan jumpa pers itu melalui siaran langsung televisi pun bereaksi. Ada yang semakin kagum atas kejujuran dan keterbukaan Mbah Sudirjo, ada pula yang kagum karena pertemuaanya dengan malaikat. Yang lainnya semakin bertambah kebenciannya kepada orang tua itu. Mereka menganggap itu hanya akal – akalan Mbah Sudirjo saja untuk mendapatkan popularitas di masa – masa akhir hidupnya.

Seorang wartawan mengangkat tangannya untuk bertanya dan Burhan mempersilakannya.

“Lalu apakah itu berarti Bapak bersedia untuk dikebumikan di bumi nanti kalau sudah meninggal?” tanya wartawan itu.

“Tidak.”

Semua bertanya – tanya.

“Lalu dengan cara apa Bapak mau dikebumikan?” tanya yang lain.

“Saya ingin tubuh saya dikremasi, lalu abu jenasah saya ditaburkan di angkasa. Biarlah saya terbang dan menghilang bersama angin. Kalau yang ini Tuhan tidak keberatan.”

Mbah Sudirjo mulai terbatuk – batuk lagi. Seluruh ruangan terdiam. Seluruh pemirsa televisi di rumah juga terdiam. Mereka tidak mampu berkata – kata, seolah terbius oleh pernyataan Mbah Sudirjo tersebut.

“Baik Saudara – Saudara,” kata Burhan memecah kesunyian, “saya pikir cukup sekian saja jumpa pers kita hari ini. Biarlah ayah saya beristirahat.” Kedua suster segera membawa Mbah Sudirjo ke dalam kamar perawatan.

***

Keesokan harinya hal yang sama terjadi lagi ketika Mbah Sudirjo menyatakan wasiatnya untuk dikebumikan di bulan. Kali ini hampir semua media cetak maupun elektronik memberitakan pernyataan Mbah Sudirjo pada hari sebelumnya. Koran – koran dan majalah – majalah rata – rata menggunakan judul yang sama untuk headline beritanya: MBAH SUDIRJO: TERBANG DAN MENGHILANG BERSAMA ANGIN. Sementara itu stasiun – stasiun televisi dan radio sibuk dengan dialog, debat, dan polling – polling mereka mengenai wasiat terakhir Mbah Sudirjo.

Mbah Sudirjo tetap menjadi selebritis! Bahkan sekarang semakin banyak tawaran sponsor berdatangan untuk beliau. Seorang produser film bahkan meminta ijin untuk membuat film biografi tentang beliau. Tayangan – tayangan infotainment tak pernah lupa memasukkan perkembangan terakhir Mbah Sudirjo dalam siaran mereka.

***

Dua minggu kemudian, Mbah Sudirjo meninggal. Upacara pelepasan diadakan, dan semua wasiat terakhir beliau pun dilaksanakan. Setelah dikremasi, abu jenasah Mbah Sudirjo dibawa ke angkasa untuk ditaburkan. Semua stasiun televisi di negeri itu beramai – ramai menyiarkan peristiwa itu secara langsung, dibumbui dengan telekuis – telekuis berhadiah.

Semua orang merasa kehilangan atas kepergian beliau. Bukan karena beliau adalah orang yang baik, melainkan karena tidak ada lagi yang bisa dijadikan bahan perbincangan. Akan tetapi rasa kehilangan itu tidak bertahan lama, karena 3 hari kemudian dikabarkan bahwa di bagian lain di negeri itu ada orang yang meminta supaya jasadnya dikuburkan di planet Mars…

TAMAT

“Suuur… Surtiiii..!!” Teriak Marto dari dalam kamar.

“Ada apa, Mas?” jawab Surti sambil tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Marto suaminya sedang sibuk mencari-cari sesuatu di kolong ranjang.

“Mas sedang mencari apa?”

“Dimana bantalku?”

“Bantal yang mana? Di atas kasur kan ada bantal?!”

Marto masih terus mencari-cari. Seluruh tubuhnya sudah kotor oleh debu di bawah ranjang.

“Bukan yang itu. Yang biasanya kupakai tidur, dimana dia?”

“Oooh, yang itu? Sudah kubuang tadi pagi. Waktu bersih-bersih kamar tadi, aku lihat bantal itu, sudah kusam sekali, lagipula kapuknya sudah mati dan kainnya sudah lapuk, sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Itu tadi aku beli 2 bantal yang baru, kebetulan ada tukang bantal lewat. Murah lho, Mas, cuma lima ribu rupiah perbantal.”

“APA?? Kamu buang?” Sahut Marto. Dia buru-buru keluar dari bawah kolong ranjang. “Kamu buang dimana? Kenapa tidak beritahu aku?” Marto mengguncang-guncangkan tubuh istrinya itu.

“Ada apa, Mas? Ada apa memangnya dengan bantal itu?” Tanya Surti, setengah ketakutan, setengah keheranan.

“Kamu kan tahu kalau aku tidak bisa tidur tanpa bantal itu. Mengapa sekarang malah membuangnya?” Jawab Marto. Dia segera pergi ke luar, ke bak sampah di depan rumah. Kosong. Tukang sampah pasti telah mengambilnya tadi siang. Marto buru-buru masuk ke dalam rumah. Dia mengambil jaket kulitnya, kunci motor, dan senter.

“Surti, aku pergi dulu!”

“Mau kemana, Mas, malam-malam begini?” Tanya Surti.

“Ke TPA. Mencari bantal itu!”

Mbok besok saja, Mas…” pinta Surti. Tapi Marto keburu pergi dengan motornya. Surti termangu sendiri.

**

30 menit kemudian, sampailah Marto di tempat pembuangan akhir. Dia memarkir motornya, lalu mengambil senter dari balik bajunya. Dia mulai menyusuri tempat itu, mulai dari pintu gerbang. Bau menyengat dari sampah yang menggunung tidak dihiraukannya. Yang dia pedulikan saat ini adalah satu: bantalnya!

Nah, itu dia! Marto melihat sebuah bantal perca tergeletak persis di depannya. Segera diambilnya bantal itu, diamat-amatinya sebentar, untuk memastikan bahwa itu adalah bantalnya. Setelah yakin benar, barulah dia beranjak dari tempat itu. Tinggal dicuci sedikit dan disemprot dengan pewangi, lalu kamu akan kembali seperti semula, dan aku pun akan bisa tidur lelap malam ini, pikir Marto. Marto bergegas menuju ke tempat dia memarkir motornya. Ketika hendak menyalakan mesin motornya, 2 orang laki-laki mendatangi Marto dari belakang.

“Bang,” Sapa salah seorang dari mereka sambil menepuk pundaknya. “kami mau pinjam motor, sebentar saja.” Lanjutnya.

Melihat gelagat yang kurang baik, Marto mulai bersiap-siap.

“Mau dipinjam kemana?” Tanyanya, berbasa-basi.

“Ke warung, membeli rokok.” Jawab yang satunya lagi

“Wah, maaf Mas, tapi saya sedang buru-buru mau pulang. Istri saya sudah lama menunggu.” Jawab Marto. Setelah berkata demikian, dia segera menyalakan mesin motornya. Kaki kirinya mulai menginjak persneling.

“Bang, ada yang jatuh tuh,” Kata laki-laki yang tadi menepuk pundaknya. Yang satunya lagi berada di belakang Marto.

Marto spontan melihat ke bawah. Begitu kepalanya agak menunduk, laki-laki yang ada di belakang Marto segera mengeluarkan sebilah pisau dari balik jaketnya, lalu menghujamkannya ke punggung Marto, berkali-kali. Marto terjatuh ke tanah. Bantal percanya berlumuran darah…..

***

“Mas Martooo….!!!” Surti berteriak memanggil nama suaminya dan menangis sejadi-jadinya.

“Sur, Surti, bangun! Ini aku, sadar…sadar, Sur!” Marto menguncang-guncang tubuh Surti. Surti pun segera tersadar. Kepalanya terasa agak pusing. Dia bermimpi buruk rupanya.

“Kamu mimpi apa sih, Sur? Kok sampai seperti itu?” tanya Marto kepada istri tercintanya itu.

“Ah, tidak apa-apa kok, Mas,” jawab Surti.

“Benar nih, tidak apa-apa? Tadi kamu seperti habis melihat hantu.”

Surti mengangguk.

“Bantal saya dimana, Mas?”

“Sebentar,” Marto beranjak dan mengambil sebuah bantal dari dalam lemari. Sebuah bantal perca kecil yang sudah sangat kumal. Tadi siang Surti hampir saja membuangnya karena sudah membeli bantal yang baru, tetapi Marto berinisiatif menyimpan bantal itu.

“Ini bantalmu. Aku kan sudah bilang, kalau kamu tidak usah beli yang macam-macam. Semua yang ada di televisi ingin kamu beli, termasuk bantal yang kau pakai tidur itu. Tapi sekarang bagaimana? Akhirnya kamu malah tidak bisa tidur dengan nyenyak, kan? Sejak kecil kamu kan tidak bisa tidur tanpa bantal percamu itu. Sudahlah, sekarang lebih baik kita tidur lagi. Nih diminum dulu,” Kata Marto sambil menyodorkan segelas air kepada istrinya itu.

Surti hanya terdiam. Diminumnya air yang ditawarkan suaminya. Setelah itu Dia mengambil bantal percanya itu dan segera tidur. Dia harus menyimpan tenaganya untuk besok. Besok dia berencana membeli kasur udara, seperti yang diiklankan di televisi setiap malam selama seminggu ini, dan yang baru saja dibeli oleh Bu Broto, tetangga sebelah rumah, siang tadi.

Halaman Berikutnya »