Awalnya aku tidak begitu ambil pusing ketika mendapati seekor cicak merayap di langit – langit kamarku. Dari mana ia masuk, aku tidak tahu. Mungkin dari lubang kecil di sudut langit – langit, mungkin juga dari lantai ketika pintu kamarku terbuka, atau bisa jadi dia sudah ada di situ sebelum aku menempatinya dua bulan yang lalu. Waktu itu ia hanyalah seekor cicak kecil yang terlihat tidak mengganggu, jadi aku diamkan saja dia merayap di sana, menangkapi nyamuk – nyamuk yang setiap malam menyedot darahku.
Selang beberapa hari kemudian, cicak kecil itu kemudian telah berubah menjadi seekor cicak dewasa. Tubuhnya terlihat lebih gemuk dari cicak – cicak lain yang pernah kulihat. Mungkin karena nyamuk – nyamuk itu, pikirku. Memang semenjak cicak itu berada di dalam kamarku, aku tidak perlu lagi membeli obat anti nyamuk bakar di warung. Nyamuk – nyamuk yang dulunya sangat getol menyedot darahku sekarang sudah tidak begitu berminat lagi masuk ke dalam kamar. Cicak itu telah memangsa teman dan saudara mereka, dan mereka tidak mau bernasib sama seperti teman dan saudara mereka yang malang itu. Aku mulai menyukai kehadiran cicak itu, menganggapnya sebagai pertolongan dari Tuhan, karena dengan adanya cicak itu aku menjadi lebih leluasa melembur pekerjaan – pekerjaan kantor yang menumpuk, tanpa perlu terganggu dengan rasa gatal di kedua tangan dan kaki karena gigitan nyamuk. Sebagai wujud terima kasihku, aku mulai menyisihkan barang satu atau dua keping biskuit yang biasa kumakan sembari melembur tiap malam untuk si cicak. Anehnya, ia sepertinya tahu dan segera memakan kepingan – kepingan biskuit yang kuberikan untuknya. Demikianlah yang terjadi setiap malam, aku menaruhkan satu atau dua keping biskuit di sudut ruangan, lalu ia akan cepat – cepat merayap mendapatkan biskuit itu dan memakannya sampai habis.
Kira – kira seminggu kemudian ada 2 ekor cicak lain yang masuk ke dalam kamarku. Wah, makin ramai nih, pikirku. Aku membiarkan saja kedua cicak itu merayap kian kemari di tembok kamar bersama dengan si cicak yang terlebih dahulu ada di ruangan ini. Terkadang mereka menjadi hiburan tersendiri buatku setelah delapan jam penuh bekerja di kantor. Biasanya aku tiduran di kasur sambil memperhatikan tingkah laku mereka. Sekali waktu mereka seperti anak kecil yang bermain perang – perangan, berikutnya lagi mereka saling berlomba untuk merayap dari dinding satu ke dinding yang lain. Suatu malam aku melihat mereka berebut biskuit yang aku berikan, sehingga aku akhirnya memberikan tiga keping biskuit tiap malam supaya mereka tidak berebut lagi.
Malam itu ketika sedang mengerjakan tugas lembur dari kantor, aku merasakan gatal di lenganku dan ternyata itu adalah ulah seekor nyamuk! Sudah beberapa minggu ini kamarku menjadi kamar bebas nyamuk, tetapi mengapa sekarang ada nyamuk yang berani masuk ke dalam kamarku? Kemana cicak – cicak itu? Setelah mencari – cari selama beberapa menit akhirnya aku menemukan cicak – cicak itu di bawah tempat tidurku, memakan biskuit yang kusimpan di sana. Aku marah. Segera kuambil biskuit itu dan kumasukkan ke dalam laci mejaku.
“Untuk sementara biskuit ini aku sita, sampai kalian berhasil mengusir nyamuk – nyamuk itu!” kataku kepada mereka waktu itu, entah mereka mengerti atau tidak.
Tetapi sepertinya usahaku itu percuma saja, karena pada malam berikutnya sepulang dari kantor aku mendapati laci mejaku sudah terbuka dan ketiga cicak itu ada di dalamnya, menikmati sisa biskuit yang kusembunyikan. Hatiku membara, dan amarahku meledak seketika itu juga. Segera kuambil laci meja itu dari tempatnya dan kubalikkan sehingga semua yang ada di dalmnya berhamburan keluar, termasuk ketiga cicak itu.
“Dasar cicak – cicak bodoh tak berguna! Selama ini aku berbaik hati kepada kalian dengan membiarkan kalian merayap – rayap di tembok kamarku ini. Aku juga memberikan kalian biskuit, dengan harapan supaya kalian semakin tangkas menangkap nyamuk – nyamuk itu. Tetapi sekarang kenyataannya kalian malah menjadi semakin lamban. Sekarang kalian hanya bisa menghabiskan biskuit – biskuit itu, dasar cicak tidak tahu terima kasih!” aku mengomel tidak karuan.
Tetapi ternyata mereka tidak menanggapi omelanku. Mereka malah merayap naik ke langit – langit kamarku sambil menjulur – julurkan lidah mereka, seolah hendak mengejek aku.
“Awas kalian,” teriakku, “kalau aku jadi cicak seperti kalian, aku akan mengejar kalian, kemanapun kalian pergi!”
Tiba – tiba setelah mengatakan itu aku merasakan rasa pusing yang luar biasa dan dunia terasa berputar dengan cepat sampai akhirnya aku tidak sadarkan diri.
Ketika bangun aku mendapati bahwa aku sedang dalam posisi telungkup, sehingga aku mencoba untuk berdiri, tetapi rasanya sulit sekali. Sekarang kepalaku tidak terasa begitu pusing, badankupun terasa lebih ringan. Aku memandang sekelilingku, dan sepertinya semuanya tampak jauh lebih besar. Buku – buku, meja, kursi, tempat tidur, semuanya. Aku serasa berada di sebuah kamar raksasa. Setelah melihat ke seluruh penjuru ruangan sekilas aku melihat kedua tanganku, dua tangan yang putih bersih dan berselaput…. Tak lama kemudian ada nyamuk besar yang terbang ke arahku, dan secara spontan aku menyambarnya dengan lidahku yang menjulur panjang, lalu menelannya.
TAMAT