Februari 2008


Di tengah badai hidup
kupercaya padaMu
Meskipun langit kelam
padaMu kuberdiam

Ajarku menyadari
tiap rancangan Ilahi
Agar ku teguh b’rani
tetap tegak berdiri

Di tengah deras gelombang, ya Tuhan
Jadikanku seteguh batu karang

Saya membayangkan pelayanan kita ini sebagai pelayanan yang berada di tengah-tengah 2 kekuatan teologi besar: Teologi “Reward” yang diwakili kaum karismatik dan Teologi “Punishment” yang diusung dan dipertahankan oleh golongan tradisional. Teologi reward cenderung berfokus pada Tuhan yang baik, yang selalu siap memberikan reward-reward berupa berkat rohani maupun jasmani kepada umat-Nya yang berkenan kepadaNya; akan tetapi kurang menekankan betapa hebatnya akibat dosa dan pentingnya pertobatan. Sebaliknya, teologi punishment cenderung menekankan Tuhan yang adil (baca: galak) dan siap memberikan hukuman bagi mereka yang berbuat dosa di hadapanNya serta kurang berbicara tentang anugerah Allah yang indah di dalam Yesus Kristus, yang memampukan kita masuk ke dalam kerajaan-Nya tanpa syarat.

Kita sebagai sebuah persekutuan yang oikumene harus mampu mengakomodir anggota-anggota persekutuan yang berasal dan masing-masing teologi tersebut. Mereka yang “berprestasi” harus mendapatkan “reward” yang cukup dan mereka yang melakukan pelanggaran harus mendapatkan “punishment” yang tegas, bukan untuk menghukum melainkan untuk mendisiplin. Yang berprestasi harus dimotivasi untuk mengembangkan dirinya mencapai prestasi yang lebih tinggi lagi, dan yang melanggar harus dibimbing untuk bisa mengubah kebiasaan buruknya menjadi kebiasaan yang positif.

Bagaimana dengan pelayanan kita? Sepertinya kita cenderung masuk dalam kelompok kedua, yang “menuntut” setiap orang untuk terus menerus menjalani hidup yang baik, menjadi murid Kristus yang taat, dan melakukan apa yang menjadi “norma-norma bersama.” Di satu sisi, ini tuntutan-tuntutan itu memang baik. Bahkan sangat baik. Akan tetapi di sisi yang lain, tidak semua orang yang bergabung dalam organisasi ini betul-betul siap atau dipersiapkan untuk menghadapi tuntutan-tuntutan itu. Akibatnya adalah, ketika tuntutan-tuntutan itu tidak dapat mereka penuhi, terjadilah penghindaran dan bahkan, pengunduran diri. Dengan berbagai macam alasan, para pelayan siswa menolak ataupun menunda tugas pelayanan yang menjadi tanggung jawab mereka. Dampak lebih luas terjadi pada pelayanan, dimana ladang menjadi tidak terurus dan pelayan-pelayan lain yang seharusnya berkonsentrasi pada ladang mereka, harus diperbantukan dan membagi konsentrasi mereka, serta menambah daftar kesibukan mereka. Pelayan-pelayan yang tadinya berkomitmen dan bersemangat melayani, ketika melihat satu persatu rekan mereka “berguguran” pasti akan bergumul dan mempertanyakan ulang mengenai pelayanan mereka. Yang kuat akan bertahan, bahkan mungkin semakin kuat, namun yang lemah akan jatuh dalam lubang yang sama. Bagaimana upaya kita menghadapi hal ini?

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membagi pelayan dalam 2 kelompok besar. Kelompok pertama adalah pelayan-pelayan yang masih bersemangat dan dengan kuat memegang teguh komitmen mereka, yang dapat dilihat melalui respon mereka terhadap aktivitas-aktivitas pelayanan mereka. Kelompok kedua adalah mereka yang sedang mengalami masa-masa jenuh dalam pelayanan, yang antara lain ditandai dengan keengganan mereka untuk terlibat dalam berbagai aktivitas pelayanan.

Selanjutnya, kita perlu memberikan perlakuan yang berbeda terhadap masing-masing kelompok tersebut. Kepada kelompok orang pertama, kita perlu memberikan “hadiah-hadiah kecil” sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras dan komitmen mereka terhadap pelayanan ini. Mungkin ada yang mengatakan bahwa hal itu tidak perlu dilakukan karena bekerja keras dalam pelayanan adalah sebuah kewajaran bagi setiap orang kristen. Orang kristen memang sudah seharusnya melakukan pelayanan dengan tekun dan tidak tawar hati seperti yang disampaikan kitab suci. Akan tetapi kita perlu mengingat ayat-ayat alkitab yang menyatakan tentang upah seorang pekerja. Allah sendiri memberikan penghargaan kepada hamba-hamba-Nya yang baik dan setia (lisan/pujian) dan mempersilakan mereka untuk ikut dalam kebahagiaan-Nya (fisik/berkat).

Lalu, kita juga perlu menambahkan pendampingan dan pemberian bantuan yang nyata pada tuntutan-tuntutan pelayanan terhadap mereka yang sedang dalam kesulitan untuk memenuhinya. Untuk mereka yang bermasalah dengan perpuluhan, misalnya, bisa dibantu bendahara untuk menyisihkan uang mereka tiap hari atau tiap minggu sehingga diharapkan di akhir bulan atau di awal bulan berikutnya yang bersangkutan bisa memberikan perpuluhan sesuai komitmennya. Dengan demikian, tidak ada yang merasa dikejar-kejar “hutang” perpuluhan/PIP, bahkan mereka bisa belajar kebiasaan-kebiasaan yang baik untuk masa depan mereka (kebiasaan menabung dan memberikan persembahan). Pendekatan-pendekatan seperti ini bahkan akan memampukan para pelayan tersebut untuk dapat mentransferkan kebiasaan-kebiasaan baik itu kepada orang-orang yang mereka layani.

Saya percaya bahwa ketika keseimbangan antara reward dan punishment ini terjadi dalam pelayanan kita, kualitas dan kuantitas pelayanan kita akan meningkat secara signifikan. Lebih lagi, pelayanan kita akan menjadi pelayanan yang diperhitungkan oleh gereja, sekolah, lembaga pelayanan lain, orang tua, orang-orang yang kita layani, dan lebih dari semuanya, TUHAN yang empunya pelayanan ini. Amin.

Those crystal eyes of Yours
had brought me a new force
to carry on my life

Those loving words You’ve said
had brought me a new day
to find my way back home

That sacrifice of Yours
had set me free cos’
You’re the only one Redeemer

That Comforter You’ve sent
had ensured my heart
to keep my faith in You

And I’ll keep on
believin’ in You
Yes I’ll keep on
believin’ in You

Halaman Berikutnya »