Januari 2008


Rehat? Mengapa tidak? Kita pasti pernah sekali waktu melakukannya kan? Bayangkan seandainya Anda menyetir mobil dalam sebuah perjalanan dari Bandung ke Surabaya, pasti Anda akan berhenti sesekali, entah untuk mengisi BBM, makan, atau sekedar meluruskan kaki yang pegal. Apa yang mungkin terjadi jika Anda memutuskan untuk tidak berhenti sampai tujuan terakhir alias melakukan perjalanan non-stop? Resiko kecelakaan pasti semakin besar, bahkan mungkin bisa merenggut nyawa Anda. Karena itulah, kita butuh rehat.

Dalam perjalanan hidup kita, kita juga butuh rehat. Kita butuh berhenti sejenak di beberapa titik perhentian untuk beristirahat, mengevaluasi perjalanan yang sudah kita tempuh, dan merencanakan (ulang) perjalanan kita di depan. Dengan demikian, resiko-resiko “kecelakaan” yang mungkin terjadi dalam hidup kita dapat terhindarkan.

Masa-masa akhir tahun 2007 dan awal tahun 2008 ini adalah titik-titik perhentian yang baik bagi kita untuk melakukan ReHAT. ReHAT yang ini merupakan akronim dari Refleksi Hidup Akhir/Awal Tahun. Seseorang pernah berkata kepada saya, “Sebenarnya guru yang terbaik dalam hidup bukanlah pengalaman, tetapi pengalaman yang direfleksikan.” Dari semua pengalaman yang sudah kita lewati, kita perlu berhenti sejenak dan merefleksikan tiap-tiap pengalaman tersebut. Karena jika tidak, hidup kita akan sia-sia dan mengalir begitu saja karena kita tidak pernah belajar dari pengalaman-pengalaman kita.

Selamat ReHAT, semoga bermanfaat. Amin

Percakapan pendek berikut ini saya temukan dalam buku “Sejenak Bijak” karya Anthony De Mello:

“Bagaimana aku bisa mengampuni sesama?”

“Jika engkau tidak pernah menghakimi, engkau juga tidak akan perlu mengampuni.”

Kalau dipikir-pikir, betul juga ya, apa yang dikatakan Sang Guru. Ketika ada seseorang yang menyakiti kita secara fisik maupun mental, kita cederung memposisikan diri sebagai korban, sekaligus jaksa dan hakim. Kita cenderung menyalahkan orang tersebut dan menunggu agar orang yang kita anggap bersalah tersebut datang kepada kita untuk meminta maaf. Tapi bayangkan seandainya kita tidak ambil pusing dengan perlakuan orang yang merugikan kita dan menyerahkan semua “penghakiman” sepenuhnya kepada Hakim Yang Adil, maka kita tidak perlu pusing-pusing bergumul dan berdoa untuk mengampuni seseorang kan?

Nah, adakah seseorang yang masih dalam daftar antrian untuk kamu ampuni? Segera buang daftar itu. Mulailah mengampuni, sekarang. Amin.